Manfaat Pembangunan Jembatan Gantung Bagi Masyarakat Desa Tamekan

Sumbawa Barat. Diskominfo - Pembangunan Jembatan Gantung Brang Rope desa Tamekan Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Balai Pelaksana Jalan Nasional IX Mataram akan sangat dirasakan manfaatnya oleh warga desa Tamekan dan sekitarnya. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Desa Tamekan, Yulhaidir saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (29/8/2019).

Yulhaidir mengatakan, selama ini para petani warga desa Tamekan sangat kesulitan mengangkut hasil pertanian dari lahan yang berada di seberang sungai ke desa Tamekan. Satu-satunya cara adalah mengangkut hasil pertanian ke jalur Seloto. Namun, menurut Kades, itupun jarak tempuh dari lahan warga ke jalur tersebut sangat jauh.

“Petani harus memikul hasil pertanian untuk membawanya ke desa Tamekan. Alhamdulillah dengan adanya jembatan ini nantinya akan sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya para petani yang memiliki lahan di seberang sungai,” kata Kades.

Kades mengungkapkan, lahan yang dimiliki warga di seberang sungai sekitar 30 – 40 hektare dengan hasil panen sekitar 240 ton permusim. “Di sini kami memiliki tiga kali musim tanam, tanam pertama yaitu padi, tanam ke dua juga padi dan tanam ke tiga palawija,” ungkap Kades.

Dengan adanya pembangunan jembatan ini, masyarakat desa Tamekan dan sekitarnya akan sangat terbantu sehingga pengangkutan hasil pertanian tidak lagi memakan biaya dan waktu yang lama.

Sebelumnya, saat peletakan batu pertama jembatan tersebut oleh Bupati yang didampingi oleh Kapolres Sumbawa Barat pada Selasa (27/8/2019) lalu. Bupati mengatakan bahwa pembangunan jembatan gantung oleh Kementerian PUPR ini adalah yang pertama kali di Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain di KSB, pembangunan juga dilakukan di Kabupaten Bima.

“Jembatan ini hampir 10 tahun dinanti oleh masyarakat tetapi baru kali ini dibangun. Jembatan ini nantinya akan bermanfaat bagi para petani kita dan akan menaikan tingkat perekonomian mereka,” kata Bupati.

Jambatan yang dibangun menggunakan anggaran DIPA Pelaksanaan Jalan Nasional anggaran 2019 ini menelan biaya Rp3.041.114.000 dan dilaksanakan oleh CV. Sagita.

Bupati berharap, dengan adanya jembatan gantung yang ukurannya dapat dilalui mobil pick up pengangkut hasil pertanian ini, masyarakat dapat dengan mudah mengakses lokasi pertanian yang berada di seberang sungai.

Selain jembatan gantung yang saat ini akan dibangun, Pemerintah Daerah juga telah memberikan pelayanan yang sangat baik kepada masyarakat seperti penyaluran air irigasi dari hulu ke hilir, penyaluran air bersih kepada warga yang saat ini cakupannya di atas 90 persen yang dirasa cukup memadai.

Kemudian ketersediaan listrik di desa-desa terpencil telah dilakukan dengan tuntas pada tahun ini. Begitu juga ketersediaan signal dan jaringan telekomunikasi saat ini telah memadai.  “Untuk signal kita masih punya tugas untuk di desa Mataiang, Rarak ronges, sebagian tua Nanga, sebagian kelanir dan tahun ini empat Tower akan dibangun untuk pada desa-desa yang belum memiliki signal tersebut,” ungkap Bupati.

Selain itu seluruh jalan poros di KSB desa sudah dihotmik, demikian juga dengan jalan lingkar yang menghubungkan Poto Tano, Tua Nanga dan Kertasari juga sudah dihotmik, kata Bupati, saat ini masih tersisa jembatan yang menghubungkan desa dengan lahan usaha tani.

“Semoga pembangunan ini tidak ada masalah. Saya berharap masyarakat di lokasi ini dapat bekerjasama dalam menjamin keamanan dan kenyamanan kontraktor yang bekerja sehingga prosesnya akan cepat selesai. Jika ini berhasil dibangun dengan baik, kami juga berencana akan membangun jembatan gantung di desa Seteluk, Banjar dan Seloto,’’ tutur Bupati. (feryal/tifa).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru