Dr A.M Fatwa dan Ir Fiz Sabililhaq Hadir Di Bima

KM Ntobo. Dr AM Fatwa dan Ir Fiz Sabililhaq jadi pembicara dalam kegiatan penyerapan aspirasi dan sosialisasi pilar kebangsaan, Jum’at (14/10) lalu di Auditorium Sudirman. Dalam penyampaiannya Dr AM Fatwa mengatakan bahwa Kampus dan Masjid merupakan dua tempat untuk persemaian dan lahirnya pemimpin bangsa. Ketika melihat perjuangan Drs H Sudirman Ismail dalam membangun kampus, maka tanpa pikir panjang saya langsung membantunya untuk segera mendirikan kampus.

“ bahwa menaruh harapan besar kepada Dr Ibnu Khaldun untuk mendidik generasi muda untuk menjadi pemimpin bangsa masa depan; dengan melihat sepak terjangnya akhir-akhir ini saya optimis” pungkasnya.

Saya masih ingat ketika berada di Bima 60 tahun lalu, kedatangannya di Bima sekarang sepertinya sedang menjejaki napak tilas perjalanan politiknya. Katanya, di Bima lah tempat pertama beliau belajar tentang politik. Pendidkan politik yang beliau dapatkan di Bima sangat mempengaruhi pemikiran dan perjalanan politiknya.

Mengenai empat pilar kebangsaan, beliau mengatakann bahwa betapa pentingnya kearifan lokal. Bangsa Indonesia adalah dibangun dari nilai-nilai lokal dan keberagaman; oleh karena itu kita mesti menjadikan perbedaan sebagai modal yang kaya untuk membangun bangsa.

Katanya, bahwa kajian akademik dengan dinamika politik tidak selalu sejalan. Artinya bahwa sistem yang diterapkan di bangsa ini bisa saja berubah.

Pesan Khusus Dr AM Fatwa kepada Bupati dan Wakil Bupati Bima agar Kantor Bupati Bima harus segera diselesaikan pembangunannya agar roda pemerintahan Kabupaten Bima dapat berjalan dengan baik.

Dalam keempatan yang sama Ir Fiz Sabililhaq memberikan materinya, dalam penyampaian mengatakan bahwa cara pandang kita terhadap bangsa dapat dilihat dari sudut pandang kearifan lokal dan dari sudut pandang nasional. Artinya bahwa setiap daerah memiliki nilai-nilai lokal yang khas yang tidak sama dengan daerah yang lain. Menyeragamkan nilai untuk diterapkan diseluruh daerah di Indonesia itu melanggar kearifan lokal yang dimiliki oleh suku bangsa Indonesia. Karena keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia inilah yang melahirkan pilar kebangsaan seperti pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Bukankah setiap daerah berhak untuk merumuskan PERDA nya sesuai kearifan lokalnya tersebut, menjadi heran kenapa banyak perda syariah yang dicabut padahal itu menjadi kearifan lokal masing-masing daerah.

Diakhir kegiatan para peserta seminar diberikan waktu untuk berdiskusi atau mengajukan pertanyaan, dalam sesi diskusi berjalan begitu alot, ada beberapa aspirasi, tanggapan dan pertanyaan dari para mahasiswa, dosen dan para undangan; dalam menyikapi empat pilar kebangsaan kita harus dapat berkontribusi buat bangsa bukan justru berbuat yang kontra produktif atau berbuat yang anarkis/radikal yang menghambat Pembangunan masyarakat. Perwakilan dari mahasiswa menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini harus digalakkan dan dilaksanakan secara masif kepada masyarakat awam dan tidak hanya menyentuh kelas menengah aja.

Dari tokoh perempuan mengatakan bahwa sila keempat Pancasila mengamanatkan untuk pemilihan pemimpin berdasarkan musyawarah dan perwakilan, pemilihan langsung tidak sesuai nilai Pancasila ungkap Nur Farhati, M.Si. Pemilihan secara langsung justru melahirkan banyak kemudharatan; beliau mencontohkan merajalelalanya perjudian menjelang Pilpres, Pilgub, Pilkada, hingga Pilkades. Pemilihan langsung menghabiskan banyak sekali anggaran negara bila dibandingkan dengan pemilihan melalui perwakilan.


Turut hadir anggota DPRD, Akademisi, Mahasiswa, Tokoh Pemuda, Tokoh Masyarakat, Tokoh Perempuan, Organisasi Pemuda, Organisasi Mahasiswa, dan siswa SMA.() 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru