Kampung Media, Kelompencapir Era Digital

Bermula dari prakarsa warga yang menginginkan kuatnya jaringan komunikasi, kini Kampung Media menjadi contoh orang-orang kota

Lebih awal menjadi pengguna belum tentu menjadi pihak pertama yang berinovasi dengan perangkat tersebut. Jaringan internet, misalnya. Di Indonesia, warga Jakarta tentulah menjadi kalangan pertama pengguna internet. Tetapi komunitas  yang pertama menggunakannya untuk membangun jaringan partisipasi publik, justru berada jauh di Lombok sana.

Inovasi itu bernama Kampung Media. Sebuah inovasi sederhana, karena memang menurut pelopor pengembangannya pun, Fairuz Abadi, berawal dari niat dan kebutuhan yang tidak muluk.

“Sebagaimana orang kota, warga kampung seperti kami pun membutuhkan komunikasi,” kata Fairuz, yang lebih dikenal dengan nama Abu Macel. Nama yang diperolehnya setelah kerap mengisi sebuah rubrik di satu koran lokal.

Dari tulisannya yang dinilai jenaka, nakal, menghibur, namun kritis dan berisikan ajakan tersembunyi untuk merenung, muncullah nama itu. Macel, dalam bahasa Sasak memang berarti nakal namun kritis dan cerdas.   

“Ajakan untuk merenung itu tak lain karena bukankah menurut Aristoteles pun, hidup yang tak ditafakuri adalah hidup yang tak layak dijalani?” kata Fairuz, tertawa saat kami sedikit menyoal penyematan nama itu.

Menurut Fairuz, sebagaimana orang kota, orang kampung pun perlu informasi dan perkembangan tidak hanya yang terjadi di lingkungan mereka. Mereka juga butuh info perkembangan kawasan lain, atau bahkan belahan dunia lain.

“Pemenuhan kebutuhan informasi itu bukan hanya dirasakan orang kota, orang kampung pun membutuhkan hal yang sama guna membuat diri mereka lebih berdaya,” kata dia.

Kebutuhan tersebut sudah dirasakan sejak lama, tentu. Namun semua itu baru mungkin diwujudkan secara lebih partisipatif setelah teknologi internet menyapa kawasan perdesaan, termasuk wilayah-wilayah terpencil di Pulau Lombok.

Awalnya simpel saja. Setelah sekian lama kerap menjadi bahan perbincangan di antara mereka, pada 19 Desember 2008 sekelompok masyarakat RT 01 Lingkungan Peresak Timur, Kelurahan Pagutan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, bersama-sama mengusung tekad memberdayakan masyarakat melalui pemanfaatan kemajuan teknologi informasi, yakni internet tadi.

Mereka yakin, internet tak hanya layak diwaspadai sebagaimana lazimnya saat itu seiring kian mudahnya orang mendapatkan foto-foto cabul dan cerita lucah. Ada lebih banyak manfaat internet, kalau pengguna memakainya secara bertanggung jawab.

Sekelompok warga RT 01 Peresak Timur ini kemudian menamakan komunitas mereka ‘Pelopor RT Digital’ atau ‘Portal’. Saat itu, ke-20 orang anggota Portal yang tinggal di pinggiran Kota Mataram itu menggunakan jaringan ‘hotspot’ Speedy untuk menjalin komunikasi.

Terdorong untuk mencapai kemaslahatan dan manfaat lebih besar, warga Portal sepakat untuk segera memperluas jaringan. Datang usulan untuk melibatkan pemerintah daerah. Apalagi Fairuz sendiri seorang pegawai negeri yang bekerja di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) setempat.

Saat gagasan untuk penyebarluasan informasi berbasis komunitas itu diajukan kepada pemerintah, gayung pun segera bersambut.

“Bahkan boleh dibilang, nama Kampung Media pun diberikan oleh Badrul Munir, yang saat itu  menjabat sebagai wakil gubernur NTB,” kata Fairuz.

Badrul pula yang dengan merujuk sejarah sukses di masa lalu, saat itu mengatakan bahwa Kampung Media seolah “Kelompok pendengar, pembaca dan pemirsa (Kelompencapir) di era kemajuan teknologi, di era digital.” 

Yang patut diacungi jempol adalah sigapnya respons Pemerintah Provinsi NTB untuk menjadikan Kampung Media sebagai program mereka, saat itu juga. Masih di tahun yang sama, Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi langsung menjadikannya program terobosan, dan menuangkannya ke dalam Peraturan Daerah Nusa Tenggara Barat Nomor 1 tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi NTB 2009 - 2013.

Gubernur bahkan langsung memerintahkan Dishubkominfo NTB untuk membuat komunitas Kampung Media di seluruh kecamatan dan menjadikannya program terobosan di bidang penyebarluasan informasi berbasis komunitas. Pemprov bahkan menyediakan dana Rp 1,7 miliar per tahun untuk program tersebut.

Alhasil, Kampung Media yang awalnya dibentuk di Mataram, itu dengan segera terbentuk pula di berbagai kecamatan dan desa di Lombok. Tentu saja, Kampung Media yang menjadi ‘pusat’ tetaplah Kampung Media yang berdiri pertama kali dan menjadi awal gerakan penyebaran informasi tersebut.

Meski terkesan serba mendapatkan berbagai ‘berkah’ (blessing in disguise) dan kemudahan, Fairuz  mengatakan, melahirkan komunitas-komunitas Kampung Media tersebut tidaklah mudah. Apalagi ketika kemudian memperluas jaringan tersebut hingga ke berbagai pelosok NTB.

“Yang terutama, apalagi saat tahun-tahun awal pengembangan, belum banyak warga yang benar-benar melek teknologi informasi serta memiliki akses jaringan internet. Jangan bayangkan kondisi NTB di tahun 2008 itu seperti kondisi Jakarta dalam hal pengenalan internet di masyarakat,” kata dia.

Kesulitan kedua yang membuat pengembangan Kampung Media tidaklah mudah, karena relatif mahalnya harga personal computer (PC) dan komputer jinjing atau laptop. Sementara, mau tak mau kedua benda yang bisa saling mensubtitusi tersebut harus ada. 

Hanya semangat dan ketelatenan yang dimiliki Fairuz dan kawan-kawan yang membuat Kampung Media kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai pelosok NTB. Mulai dari awal pendirian, tahun kedua yang segera mencapai 50 komunitas Kampung Media, hingga saat ini yang mencatatkan adanya 150-an Kampung Media, dengan anggota mencapai 1.543.

Kesemua anggota tersebut tercatat, karena mereka harus memiliki tanda login dan kata pass tersendiri untuk masuk dan menulis di Kampung Media.

Ke-150-an nama kampung media itu begitu beragam. Namun umumnya menggunakan nama tempat komunitas itu berada. Contohnya Kampung Media Lingsar dan Narmada di Lombok Barat, Kampung Media Portal, Abian Tubuh di Mataram, Kampung Media Mesra Seteluk, Serambi Brang Rea di Sumbawa Barat.

Kampung Media Bolo, Lengge, Tambora di Kabupaten Bima, atau Kampung Media Manggelewa, Pajo dan Sanggicu di Kabupaten Dompu.  Belakangan Pemprov NTB bahkan juga memprogramkan kampung media di berbagai kawasan wisata, untuk menarik kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya.

Besarnya anggota komunitas itulah yang memungkinkan Kampung Media pada 2014 lalu merilis sebuah buku, ‘Kisah Inspiratif Dari Kampung’, yang berisikan kisah-kisah inspiratif buah karya para anggota komunitas.

‘Masa panen’ itu sebenarnya sudah dimulai hanya tiga tahun setelah berdiri. Pada Desember 2011 lalu, misalnya, Kampung Media berhasil meraih penghargaan Universal Service Obligation (USO) Award, sebuah penghargaan bidang pelayanan umum sebagai media dengan ide kreatif terbaik dalam upaya penyebarluasan informasi dari Kementerian Kominfo.

Tidak hanya itu, The Australia Partnership for Decentralisation pun menilai Kampung Media sebagai The Best Practice pengembangan konten media dan penyebaran informasi publik.

Tahun lalu, Kampung Media menyisihkan 515 inovasi lain dari penjuru negeri dan terpilih sebagai Top 9 Inovasi Pelayanan Publik 2014 oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

“Kami harus mengakui, Pemprov NTB banyak terbantu keberadaan Kampung Media,” kata Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi, suatu ketika. Menurut Zainul, Kampung Media tak hanya membuat partisipasi warga naik tajam dan membantu proses pembangunan yang tengah digalakkan.

“Lebih jauh lagi, Kampung Media mengajarkan betapa kabar baik akan menumbuhkan lagi kebaikan yang banyak. Mengajarkan bahwa sejatinya, teknologi memang lahir untuk kemaslahatan.”

Dari sejawat di lapangan, Kampung Media pun tak kurang mendapatkan sokongan dan pujian. Misalnya dari  Australia Indonesia Patnership Decentralisation (AIPD) NTB.

“Ini benar-benar media yang dibutuhkan public. Karena di sini pula public bisa berbagi hal-hal yang menjadi kebutuhan mereka sendiri,” kata Civil Society Officer AIPD NTB, Susana Dewi.

“Kami tak akan berhenti sampai di sini,” kata Fairuz. Masih banyak ide mengendap di benaknya tentang masa depan Kampung Media. “Mungkin ke depan akan ada Koran Kampung, TV Kampung, Radio Kampung,” kata dia. “Semua dimiliki kami, orang kampung. Bukan oleh sekadar pemodal yang datang ke kampung.”

Barangkali, jika saja Marshall McLuhan masih hidup, ia akan berkunjung ke Lombok. Di tempat ini, ungkapannya tentang ‘kampung dunia’ (global village) menemukan bukti, hingga arti yang paling harfiah. [ekalaya] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru