Bulog Jangan Dusta..!

MATARAM – Kinerja Bulog Divisi Regional NTB kembali jadi sorotan. Kritikan lagi-lagi datang dari Komandan Korem 162/ Wira Bhakti Kolonel CZI Lalu Irham Srigede. Ia mempertanyakan jumlah serapan Bulog yang sampai saat ini masih jauh dari target.

“Saya sudah berkali-kali bilang sama Bulog. Jangan ada dustalah. Mereka harus terbuka, ada apa sebenarnya,” tegas Rudy.

Pria asli Lombok Tengah ini dibuat geram. Pasalnya, Bulog NTB ditarget menyerap 100 ribu ton beras petani untuk tahun ini. Target itu harusnya sudah beres pada September. Namun, tampaknya masih jauh panggang dari api.

Hingga kini, TNI mendapat laporan bahwa serapan Bulog NTB masih 38 ribu ton atau hanya 38 persen saja dari target yang ditetapkan.

Alhasil, Bulog NTB pun diberi perpanjangan waktu oleh pemerintah pusat sampai Desember mendatang untuk memenuhi target serapan tersebut. Jika sampai batas waktu yang ditentukan, target tak tercapai, maka secara otomatis membuka peluang untuk adanya impor beras.

“Kalau sudah impor kan bahaya. Hancurlah petani kita karena ketika panen, masuk beras dari luar negeri,” tegas Rudy.

Ia pun menduga ada unsur kesengajaan dari oknum tertentu untuk mengganjal serapan beras di kalangan petani. Tujuannya bisa jadi untuk membuka kesempatan impor beras. “Kita khawatir ada permainan tengkulak membuka peluang untuk impor,” kata Rudy.

Kecurigaan ini, menurut Rudy sangat berdasar. Pasalnya, estimasi produksi beras di NTB mencapai 2 juta ton. Di Sumbawa saja, katanya, produksi bisa surplus 200 ribu ton. Dari surplus tersebut, Bulog NTB hanya diminta mencari 25 ribu ton. Namun, kata Rudy, sampai saat ini Bulog baru bisa menyerap 5 ribuan ton.

“Sebenarnya sangat mudah target 100 ribu ton itu tercapai. Estimasi kita kan 2 juta ton. Entah ada apa sampai saat ini, target tak kunjung tercapai. Makanya kita minta Bulog jujur, jangan ada dusta,” pungas Rudy.

Ia juga mengungkap beberapa keanehan yang terjadi di lapangan. Salah satunya, TNI sudah menegaskan tidak izinkan ada gabah yang keluar NTB. Pihaknya pun sudah beberapa kali menangkap basah truk berisi gabah yang akan dibawa ke Jawa.

“Begitu kita tangkap, kita panggil Bulog dan minta mereka langsung beli hasil tangkapan tersebut,” kata Rudy.

Lucunya, lanjut Rudy, Bulog justru menolak membeli dengan alasan tidak sesuai kriteria. Padahal, imbuhnya, gabah yang hendak diselundupkan itu kabarnya justru untuk dibeli oleh Bulog di Jember. “Saya benar-benar bingung sama Bulog ini,” pungkasnya. (uki/r10)

 () -05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru