Manggelewa Dalam Tatanan Perencanaan Pembangunan

KECAMATAN MANGGELEWA

Sejarah Singkat Manggelewa


Sejarah merupakan riwayat dari sebuah peristiwa menurut standar waktu yang telah terlampau lama dari saat di mana suatu peristiwa atau kejadian itu tercatat kambali dengan tujuan untuk mengenang, mengingat atau mengabadikannya demi kepentingan dan perbendaharaan ilmu di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Setiap subjek dan objek yang nampak dapat dimasukkan dalam kategori atau dimensi sejarah. Dimensi tersebut mencakup kehidupan manusia, tempat atau wilayah, social serta politik sampai ke ranah budaya.

Kecamatan Manggelewa sebagai salah satu wilayah territorial kecamatan terpenting yang terdapat di Kabupaten Dompu Propinsi Nusa Tenggara Barat, tidak luput dari catatan sejarah peradaban masyarakat yang tentu saja bertujuan untuk mengenang dan mengingat kembali keberadaannya di masa lampau. Mengingat Kecamatan Manggelewa saat ini memiliki track record sebagai Lumbung Jagung dan Lumbung Ternak Terbesar Di NTB di samping perkembangan kewilayahan maupun kependudukan yang semakin meningkat dan maju di mata masyarakat NTB pada khususnya dan Indonesia pada umunya.

Dari segi kewilayahan, Manggelewa awalnya merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Kempo pada tanggal 29 Desember 2002. Nama Manggelewa itu sendiri di abadikan melalui proses analisa sejarah yang mendalam oleh para tokoh pencetus* terbentuknya Kecamatan Definitif Manggelewa.

Sejarah ingatan masyarakat Manggelewa menggambarkan keberadaan penduduk ketika pertama kali mendiami wilayah yang saat ini bernama “Banggo” atau Desa Banggo. Cerita merumput dan mengakar pada kisah perjuangan penduduk melawan Penjajah Belanda dan Jepang. Kini Manggelewa berumur 10 tahun** dan masyarakat mengenal Manggelewa terbentuk dari dua kata yang memiliki arti penting, yaitu “Mangge” yang berarti “Asam” dan “Lewa” yang berarti “Perang” dan jika digabungkan menjadi “Asam Perang”. Pencetusan nama Manggelewa ini terinspirasi dari sebuah pohon Asam Tua yang tumbuh di sebelah barat SDN No. 7 Manggelewa tepatnya di Desa Soriutu yang merupakan Ibukota Kecamatan Manggelewa Kabupaten Dompu Propinsi Nusa Tenggara Barat. Pohon inilah diabadikan sebagai saksi sejarah perjuangan rakyat Manggelewa dalam melawan penjajah.

Kisah bermula dari perlawanan penduduk Desa Banggo yang merupakan desa tertua di Kecamatan Manggelewa atas penjajahan Kolonial Belanda dan Kudeta atas kependudukan Jepang sekitar bulan Februari tahun 1942 di wilayah Desa tersebut dan sekitarnya.

Singkat cerita, dalam peperangan tersebut pihak Belanda mengalami kekalahan. Pemuda melawan Belanda dengan menggunakan senjata seadanya. Senjata yang digunakan lebih bersifat tradisional, salah satunya “Cila Mboko” yang berarti “Parang Lekukan” sehingga di pihak Belanda ada yang berhasil dibunuh ada juga yang hanya dapat disandera oleh para pejuang pada saat itu.


Ilustrasi Gambar Mangge *(Asam), Lewa *(Perang)

***

  1. Perkembangan Wilayah dan Penduduk Manggelewa


Kecamatan Manggelewa merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Dompu yang terletak di bagian barat, dan secara geografis terletak antara 118 07’ – 118 23’ Bujur Timur dan 8 25’ – 9 43’ Lintang Selatan dan memiliki luas 176,49 km2. Kecamatan Manggelewa berbatasan dengan Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima disebelah Utara; sebelah Selatan dengan Kecamatan Empang Kabupaten Sumbawa; Kecamatan Kempo di sebelah Barat dan Kecamatan Woja di sebelah Timur.

HUT Kecamatan Manggelewa juga diambil dari sejarah pertama berdirinya Kecamatan Manggelewa yaitu pada tanggal 29 Desember 2002.

Sebagian besar merupakan dataran tinggi dengan ketinggian antara 2 sampai 250 meter Wilayah Kecamatan Manggelewa di atas permukaan laut dan merupakan daerah yang potensial untuk tanaman padi dan palawija.

Pada awalnya wilayah Dompu terdiri atas beberapa kerajaan. Namun banyak bukti-bukti sejarah yang hilang karena letusan dahsyat Gunung Tambora.  Karena  Malapetaka tersebut, dalam perjalanan waktu puluhan bahkan ratusan tahun, kemudian Dompu terpaksa menerima imigrasi penduduk dari kerajaan sekitarnya,  hususnya dari wilayah kerajaan bima (mbojo). Terbentuklah komunitas-komunitas Bima di Dompu. Atas persetujuan sultan Dompu dan Bima di datangkanlah rakyat kolonisasi (pembojong) dari Bima dengan syarat bahwa rakyat itu menjadi rakyat kerajaan Dompu. Karena itu bertambah jumlah kampung dan jiwa di Dompu seperti yang kita lihat sekarang.  Sebagaimana wilayah lain di Indonesia, Kecamatan Manggelewa beriklim tropis yang terdiri dari 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim kemarau pada umumnya terjadi pada Bulan April – Oktober. Sementara musim hujan terjadi pada Bulan Oktober – April.  

Jumlah hari hujan di wilayah Kecamatan Manggelewa banyak terdapat di Bulan Januari, Februari, Maret dan Desember. Begitu juga dengan curah hujan banyak terdapat di bulan Januari, Februari, Maret dan Desember.

Kecamatan Manggelewa terdiri dari 11 Desa. Seperti kecamatan lain di Kabupaten Dompu kecamatan Manggelewa terus mengalami pemekaran Desa seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di kecamatan Manggelewa.  Pemekaran Desa terakhir kali terjadi pada tahun 2007/2008 yaitu Pecahnya Desa Nusa jaya menjadi Desa Kampasi Meci dan pecahnya DesaSoriutu menjadi Desa Teka Sire. Sejalan dengan bertambahnya jumlah Desa, jumlah Dusunpun mengalami penambahan. Pada tahun 2008 terdapat 38 Dusun bertambah menjadi 55 Dusun pada tahun 2009/2010, sementara jumlah SLS juga mengalami pertambahan.  Sebagian besar Kepala Desa berpendidikan SLTA Yaitu Kepala Desa Kwangko, Kepala Desa Banggo, Kepala Desa Soriutu, Kepala Desa Lanci jaya, Kepala Desa Nusa jaya, Kepala Desa Suka Damai, Kepala Desa Tanju, Kepala Desa Kampasi Meci dan kepala Desa Teka Sire. Sedangkan kepala Desa berpendidikan Universitas (S1) diantaranya kepala Desa Nanga Tumpu,Dan Kepala Desa Doro Melo.

Setiap Desa dipimpin oleh seorang kepala Desa melalui sebuah pemilihan oleh masyarakat di Desa setempat, Jumlah Pamong di masing-masing Desa berkisar antara 6-7 orang yang memiliki tingkat pendidikan yang bervariatif. Sejak Tahun 2008 beberapa Sekretaris Desa diangkat menjadi  Pegawai Negeri Sipil dan Sampai saat ini seluruh Sekretaris Desa di kecamatan Dompu berstatus Pegawai Negeri Sipil. Begitu juga dengan jumlah Dusun yang berkisar antara 3-10 Dusun yang berada di Bawah Desa yang dipimpin oleh seorang kepala Dusun melalui proses pemilihan oleh masyarakat di Dusun tersebut, dan jumlah SLS berkisar antara 8-19.

     

Struktur penduduk DOMPU didominasi oleh penduduk muda. Hal menarik yang dapat diamati pada piramida penduduk adalah adanya perkembangan penduduk yang ditandai dengan penduduk usia 0-14 tahun yang jumlahnya lebih besar dari kelompok penduduk usia yang lebih tua dan berbentuk limas. Penduduk merupakan subyek dan sekaligus obyek dari pembangunan. Jumlah penduduk kecamatan Manggelewa pada tahun 2009 telah mencapai 27.737 jiwa. Angka ini terus mengalami peningkatan dan mencapai 27.777 jiwa pada tahun 2010.

Tingkat pertumbuhan penduduk masih stabil dari tahun ke tahun. Selama periode 2009-2010 tingkat pertumbuhan penduduk tercatat dari 1,21 persen. Dengan luas wilayah sekitar 176,46 km2, setiap km2 ditempati penduduk sebanyak 27,777 orang pada tahun 2010. Secara umum jumlah penduduk  laki-laki lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Hal ini dapat ditunjukkan oleh  sex ratio yang nilainya lebih besar dari 100. Pada tahun 2010, untuk setiap 100 penduduk  laki-laki  terdapat 99,73 penduduk  perempuan. Jumlah Rumah Tangga mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dari tahun 2009 sejumlah  6.492  ruta menjadi  6.617 ruta  pada tahun 2010.

Jika dilihat menurut Desa/Kelurahan di  Dompu persebaran penduduk tampak tidak  merata. Hal tersebut terlihat dari perbandingan  antara jumlah penduduk dengan luas wilayah.  Wilayah Desa di pusat kota Kecamatan Manggelewa dan sekitarnya jauh lebih padat dibandingkan wilayah – wilayah Pedesaan yang  jauh dari ibukota Kecamatan Secara kacamata kecamatan umumya penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan penduduk perempuan yang tersebar di beberapa Desa/Kelurahan. Hal ini dapat ditinjau dari penyebaran di tiap-tiap Desa, Penduduk sebagai salah satu modal dasar pembangunan, sehingga tidak meratanya kepadatan penduduk tersebut menjadi salah satu penyebab perbedaan akselerasi pembangunan antar Desa/Kelurahan di Kecamatan Manggelewa.  

Program pendidikan gratis yang dilaksanakan secara nasional sangat membantu masyarakat tidak mampu untuk melanjutkan sekolah termasuk di Kecamatan Manggelewa. Sedikit berbeda dengan daerah lain Kecamatan Manggelewa memberlakukan kebijakan pendidikan gratis tidak saja sampai SLTP melainkan juga sampai tingkat SLTA. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan masyarakat melalui peningkatan partisipasi sekolah.  Sejalan dengan kebijakan tersebut, fasilitas pendidikan berupa pembangunan Sekolah Menengah Tingkat Pertama Satu Atap atau lebih di kenal SMPN SATAP di Desa Nanga Tumpu dan Desa tanju tahun 2008 adalah bukti keseriusan Pemerintah dalam mengsukseskan program wajib belajar Sembilan tahun.  Rasio Perbandingan Murid SD dengan Guru SD di masing-masing Desa sangat bervariasi. Rasio Terendah terdapat di Desa Banggo dan Desa Teka Sire dengan perbandingan 1 : 8, sedangkan rasio tertinggi terdapat di Desa Tanju dengan perbandingan 1 : 20. Dilihat secara kecamatan 1 orang Guru SD rata-rata mengajar anak muridnya sebanyak 11 orang. Hal ini berarti Jumlah Guru SD di Kecamatan Manggelewa masih dapat mengimbangi jumlah murid SD yang terus bertambah dari tahun ke tahun seiring dengan pola fikir masyarakat yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.


* Tokoh Masyarakat Desa Soriutu

** Terhitung tanggal 1 September 2013

 

DAFTAR REFERENSI

 

No.

Nama

Alamat

TTL

Pendidikan Terakhir

1.

YUSRAN SUDEN

Banggo

Banggo, 31-12-1949

SPG

2.

A. HAMID H. M. SALEH

Soriutu

Soriutu, 31-12-1959

S-2

3.

ADITH ABDILLAH

Soriutu

Bima, 04-05-1986

S-1

 

- (01)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru