logoblog

Cari

Bale Mediasi, Sarana Menjaga Tradisi

Bale Mediasi, Sarana Menjaga Tradisi

Semakin maju teknologi, hati semakin jauh sehingga orang melupakan bagaimana berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat. Hal itu pula yang menyebabkan

Pelayanan Publik

suryadi jamie
Oleh suryadi jamie
08 Januari, 2020 19:38:19
Pelayanan Publik
Komentar: 0
Dibaca: 1003 Kali

Semakin maju teknologi, hati semakin jauh sehingga orang melupakan bagaimana berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat. Hal itu pula yang menyebabkan orang kian lupa menjaga tradisi termasuk dalam menyelesaikan persoalan sosial antar individu mapun didalam komunitas jika terjadi konflik.

“Oleh sebab itu, kita dapat berharap Bale Mediasi yang sekarang diresmikan di tingkat desa ini dapat memberikan solusi agar tetap berpegang pada tradisi. Kalau teknologi makin maju maka cara cara mediasi juga harus makin canggih”, kata Gubernur menyampaikan apresiasi peresmian Bale Mediasi Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat di desa setempat, Rabu (08/01).

Penandatanganan surat kesepakatan perdamaian antara warga Embungpas Barat dengan salah seorang warga Dusun Repok Pancor, Desa Sigerongan terkait pelanggaran adat Nambaraya dalam proses adat Merariq dan kesepakatan damai terkait pencemaran limbah ternak sapi antara warga Dusun Duman, Desa Duman dan seorang warga Desa Sigerongan menjadi penanda diresmikannya Bale Mediasi. Disaksikan Gubernur Zul, penandatanganan itu dihadiri kedua belah pihak, kepala desa setempat dan tokoh masyarakat dengan syarat dan ketentuan yang telah disepakati.

Penyelesaian konflik di masyarakat sebut Gubernur dalam sambutannya, akan ikut mendukung pembangunan yang diupayakan oleh pemerintah. Sebabnya, masyarakat yang mampu menyelesaikan persoalan sendiri juga ikut merawat ketertiban dan keamanan masing masing tanpa harus menggunakan instrument hukum yang lebih tinggi. Apalagi secara historis masyarakat Lombok juga dikenal memiliki tradisi kuat dalam bermusyawarah. Gubernur meyakini banyak hal baik yang dapat lahir dari Bale Mediasi tidak hanya tentang mediasi konflik.

Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid mengatakan, kabupaten Lombok Utara sejak lama memiliki tradisi yang disebut Begundeng dalam menyelesaikan konflik dan cara cara mediasi tradisional sesuai kesepakatan dan ketentuan adat di masyarakat. Keberhasilan tradisi itu bahkan menjadi objek penelitian ilmuwan sosial luar negeri yang ingin mengetahuinya. Ditambahkannya, dalam masyarakat yang kian kosmopolitan dan beragam, masyarakat Lombok diakuinya kian jauh dari tradisi dan memiliki sensitifitas dan ego individual yang berlebihan. Untuk itu, kehadiran Bale Mediasi yang dikawal oleh tokoh nasional seperti L Mariyun, ia berharap desa desa lain segera membentuk Bale Mediasi untuk menekan konflik yang terjadi di masyarakat.

 

Baca Juga :


“Jika dapat diselesaikan di desa kenapa harus mempolisikan perkara yang sebenarnya dapat di mediasi. Hal ini agar tetap bisa menjaga tradisi musyawarah dan saling menghormati sesama warga karena akan mengedepankan silaturahmi sesama warga dan komunikasi personal ketimbang diurus oleh polisi atau kejaksaan”, ujar Fauzan.

Kepala Desa Sigerongan, Dian Siswadi Halisaswita mengatakan, desa yang memiliki motto Sejajar Sejejer Sejujur ini adalah bentuk warisan dari para pendahulunya termasuk pula adat istiadat dan tradisi yang harus tetap dijaganya. Selain membangun dengan program kekinian, seluruh warga Desa Sigerongan diingatkan agar tetap memelihara tradisi dan adat istiadat.

Bale Mediasi sendiri adalah amanat Peraturan Daerah nomor 9 tahun 2018 tentang Bale Mediasi yang berfungsi sebagai Lembaga mediasi, pembinaan dan koordinasi dalam pelaksanaan mediasi di masyarakat sesuai kearifan lokal. Lembaga ini dibuat untuk menyelesaikan sengketa dengan proses mediasi dan musyawarah. Dengan dikeluarkannya surat telegram Kapolda pada tanggal 20 September 2019, Bale Mediasi mulai dibentuk di tingkat desa agar dapat melakukan penyelesaian sengketa diluar peradilan dan disahkan oleh pengadilan negeri.
“Ketua Bale Mediasi di desa bisa siapa saja yang memiliki kompetensi dan kewenangan tidak harus kepala desa bersangkutan. Kebetulan di Desa Sigerongan saya dipercaya menjadi ketua Bale Mediasi dan sudah kita siapkan ruangan khusus untuk tempat mediasi seperti surat Kapolda”, tambah Siswadi. (jm)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2020 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan