logoblog

Cari

Polda Antisipasi Konflik Sosial Di Medsos

Polda Antisipasi Konflik Sosial Di Medsos

Pengaruh media sosial sebagai pasar informasi turut menyumbang penyebab konflik sosial berkepanjangan di masyarakat. Meski tidak secara langsung, informasi yang bebas

Pelayanan Publik

KIM PROVINSI NTB
Oleh KIM PROVINSI NTB
08 November, 2019 13:43:26
Pelayanan Publik
Komentar: 0
Dibaca: 374 Kali

Pengaruh media sosial sebagai pasar informasi turut menyumbang penyebab konflik sosial berkepanjangan di masyarakat. Meski tidak secara langsung, informasi yang bebas nilai mulai dari hoax sampai disinformasi ditengarai ikut memengaruhi cara berpikir orang per orang bahkan secara komunal.

"Ada banyak factor penyebab konflik sosial. Utamanya memang dari kejadian nyata sehari hari. Tapi pengaruh media sosial yang sekarang orang banyak berkumpul disana bisa juga sebagai upaya apparat dalam menyelesaikan sebuah konflik. Banyak informasi di medsos yang bisa digunakan untuk mengambil langkah langkah yang dibutuhkan sebagai pendekatan mencari penyelesaian konflik”, ujar AKBP Moch Yunus, Kasubdit Kamneg Dit Intelkam Polda NTB.

Yunus mengatakan kecenderungan orang bermedsos saat ini dan carut marut informasi disana membuat aparat melakukan tindakan pencegahan konflik dengan melakukan penguatan terhadap kelompok kelompok masyarakat yang rentan dipengaruhi informasi dari medsos. Salah satunya kaum muda milenial yang secara bersamaan dianggap paling berpotensi melakukan perubahan untuk mengajak masyarakat lain menjaga suasana aman, tentram dan damai di media social maupun di masyarakat.

Upaya pencegahan melalui media social ini terutama dengan memberikan pemahaman terkait teknologi informasi juga menegaskan tujuan bersama bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kepada kaum milenial. Dalam forum diskusi yang digelar di Mataram (07/11) selain menghadirkan narasumber dari Majelis Ulama Indonesia dan Forum Komunikasi Umat Beragama juga menghadirkan praktisi dan ahli komunikasi media social. Fairuz Abadi yang ikut memberikan penguatan bagaimana mengenali berita bohong (hoax) dan disinformasi di media social juga membuka cara berpikir kaum milenial agar selalu memahami isu tertentu dengan mengecek fakta maupun mengasah rasionalitas.

“Informasi bahkan berita media sekalipun dapat menggiring pikiran seseorang untuk mempercayai sesuatu jika tidak berhati hati membaca dan menerima pesannya. Informasi yang berlimpah ataupun kebebasan berekspresi di media social juga harus disikapi bijaksana. Di era digital, setiap tindakan kita menjadi jejak yang kita tinggalkan bahkan tanpa kita sadari”, jelas Fairuz.

Yunus menambahkan, aparat juga tetap melakukan pengawasan terkait perilaku masyarakat di media social dalam menanggapi perkembangan local maupun nasional yang menjadi isu sebagai upaya pencegahan. Namun demikian, ia menyebut konflik social belakangan ini makin menurun. Isu radikalisme dan tingginya kasus pelanggaran UU ITE di NTB secara fakta hukum sudah banyak terjadi di NTB.

Meski demikian jumlahnya kian menurun karena upaya bersama untuk selalu menjaga kondusifitas dengan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kondisi situasi terkini. “Ada banyak factor membuat masyarakat kita makin aman, damai dan tentram. Yang jelas kalau sudah begitu, tugas polisi memelihara kondisi itu. Masyarakat secara bersama harus terus mengupayakan keadaan yang baik”, tutup Yunus. (JM/Edy)

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan