logoblog

Cari

Nusa Terang Benderang, Wujud NTB Gemilang

Nusa Terang Benderang, Wujud NTB Gemilang

General Manager PT. PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) NTB, Rudi Purnomoloka Putra mengatakan ada tiga poin menjadi catatan penting dan

Pelayanan Publik

suryadi jamie
Oleh suryadi jamie
11 Juli, 2019 14:51:03
Pelayanan Publik
Komentar: 0
Dibaca: 425 Kali

General Manager PT. PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) NTB, Rudi Purnomoloka Putra mengatakan ada tiga poin menjadi catatan penting dan atensi PT PLN, yakni listrik harus tersedia untuk seluruh lapisan masyarakat dengan meningkatkan rasio elektrifikasi diseluruh wilayah di NTB, listrik harus selalu andal dan nyala terus dan listrik harus terjangkau oleh masyarakat.
Pemerintah Provinsi tetap memberikan dukungan kepada PLN atas kinerjanya yang tidak mengenal waktu untuk membangun agar terus terang benderang di NTB.
“Prestasi yang dicapai PLN NTB selama ini dengan memenuhi target pencapaian nasional diharapkan akan terus memacu kinerja PLN NTB khususnya, guna mempercepat peningkatan elektrifikasi di daerah pedesaan,” kata Gubernur NTB Zulkieflimansyah.
Namun demikian, orang nomor satu di NTB ini juga meminta masyarakat untuk tetap hemat energi dengan tidak melakukan pemborosan listrik.

Guna mengamankan listrik Sistem Sumbawa di Pulau Sumbawa, PLTMG 50 Mega Watt (MW) Bima merupakan salah satu proyek ketenagalistrikan program 35.000 MW yang menjadi salah satu program prioritas nasional.
"Pembangkit yang dibangun di Kelurahan Kolo, Kecamatan Asakota, Bima tersebut sudah mendapatkan Sertifikat Laik Operasi (SLO), sehingga layak dioperasikan," kata Asisten Manajer Komunikas PT PLN Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara, Lalu Irlan Jayadi.
Tujuan program tersebut agar seluruh masyarakat di seluruh pelosok Tanah Air dapat menikmati listrik sehingga rasio elektrifikasi Indonesia pada 2019 ditargetkan lebih dari 99%.
Irlan menyebutkan dengan masuknya PLTMG Bima unit 1, 2, dan 3, total kapasitas pembangkit listrik yang ada di NTB saat ini mencapai 356 MW.
Hal itu menjadi kabar baik bagi para investor dan masyarakat di NTB, yang ingin mengembangkan ekonomi daerah tanpa perlu khawatir lagi dengan ketersediaan energi listrik.
Menurut Irlan, kesiapan pemenuhan kebutuhan listrik untuk sektor industri dan pariwisata di NTB semakin membaik dari tahun ke tahun.
"Kesiapan energi di NTB sangat penting, mengingat NTB merupakan salah satu destinasi wisata lokal maupun mancanegara," tuturnya.
Ia menambahkan, sejumlah proyek infrastruktur ketenagalistrikan di NTB, juga sudah mendapat SLO. Di antaranya adalah Gardu Induk 70 kilo Volt (kV) Bonto, Gardu Induk 70 kV Bima Extension, Gardu Induk 70 kV Alas, dan saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 70 kV Alas-Taliwang.
Ada juga empat proyek pembangkit listrik di NTB yang sedang proses penerbitan SLO. Di Pulau Lombok sendiri terdapat dua proyek SUTT 150 kV yang sedang proses prakonstruksi, yaitu jalur transmisi SUTT 150 kV Jeranjang-Sekotong, dan jalur transmisi SUTT 150 kV Mataram-Mantang.
General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTB Rudi Purnomoloka menjelaskan tentang capaian target PLN di wilayah NTB sudah melebihi target pemerintah pada rencana umum kelistrikan nasional. Namun PLN akan terus bekerja untuk mempercepat peningkatan elektrifikasi di daerah pedesaan.
PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menutup tahun 2018 lalu dengan mengalirkan listrik di Desa Sarae Ruma dan Desa Pusu yang berada di Kabupaten Bima. Dengan terlistrikinya dua desa tersebut, kini seluruh desa di NTB telah menikmati listrik. "100 persen desa di NTB telah berhasil teraliri listrik,” ujar General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTB Rudi Purnomoloka.

Untuk melistriki Desa Sarae Ruma, PLN membangun jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 3,86 kilometer sirkuit (kms), jaringan tegangan rendah sepanjang 1,64 kms, dan dua Gardu Distribusi berkapasitas 100 kilo Volt Ampere (kVA) dan 160 kVA. Proyek tersebut membutuhkan nilai investasi sebesar Rp 1,4 miliar. Sementara untuk Desa Pusu, JTM yang dibangun sepanjang 4,73 kms, JTR sepanjang 1,69 kms dan 2 gardu distribusi berkapasitas 50 kVA dan 100 kVA. Nilai investasnya leboh besar daripada JTM di Desa Sarae Ruma, yakni Rp 1,8 miliar. Sehingga, total biaya yang dikeluarkan untuk mengalirkan listrik ke dua desa ini sebesar Rp 3,2 miliar.

"Seluruh dana yang digunakan untuk pembangunan listrik desa ini berasal dari anggaran PLN," kata Rudi. Ia menambahkan, keberhasilan PLN melistriki desa-desa yang belum berlistrik di akhir tahun itu merupakan bentuk komitmen nyata PLN untuk terus mewujudkan cita-cita Provinsi NTB menjadi Nusa Terang Benderang.

“Tantangan terbesar adalah akses ke lokasi, perjalanan yang ditempuh cukup jauh. Tapi alhamdulillah sebelum 2019 sudah berhasil kami listriki,” kata Rudi. Desa Sarae Ruma memiliki total 171 kepala keluarga dan Desa Pusu sebanyak 170 kepala keluarga. Pada tahap awal, sebanyak 24 kepala keluarga di Desa Sarae Ruma dan 37 kepala keluarga di Desa Pusu sudah menjadi pelanggan PLN. Rudi mengatakan, hadirnya listrik diharapkan dapat memberikan dampak bagi peningkatan perekonomian masyarakat di desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan dan petani.

 

Baca Juga :


Ia berharap dengan adanya aliran listrik, maka muncul usaha-usaha pengolahan hasil perikanan dan pertanian baru. Selanjutnya, melalui program listrik desa, PLN akan menjangkau lebih luas daerah yang belum dialiri listrik. Untuk 2019 ini, PLN menargetkan dapat melistriki 44 Dusun terpencil di NTB. Hingga bulan November 2018, rasio elektrifikasi di Provinsi NTB telah mencapai 91,3 persen. PLN menargetkan rasio elektrifikasi di NTB meningkat menjadi 97,5 persen pada 2019 dan 100 persen pada 2020.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTB Rudi Purnomoloka mengatakan rasio elektrifikasi (RE) merupakan salah satu indikator kemajuan suatu daerah dengan dihitung dari banyaknya jumlah kepala keluarga (KK) yang telah menjadi pelanggan PLN. Namun begitu, capaian terhadap RE akan terus berubah seiring dengan adanya penambahan jumlah keluarga yang memiliki KK baru.
Rudi memaparkan, pada 2018, pelanggan PLN UIW NTB sebanyak 1,3 juta pelanggan dengan tingkat pertumbuhan sebesar 12,51 persen dari 2017. "Ini merupakan capaian tertinggi selama kurun waktu empat tahun terakhir," ujar Rudi.
Rudi menyebut, untuk segmen pelanggan rumah tangga yang digunakan sebagai dasar perhitungan RE adalah sebanyak 1,28 juta. Pelanggan dengan tarif ini mendominasi komposisi pelanggan PLN UIW NTB dengan persentase sebesar 94,8 persen.
"Di NTB, capaian RE pada 2018 adalah sebesar 93,7 persen. Meningkat sebesar 10,23 persen dari 2017, di mana capaian RE saat itu sebesar 83,05 persen. Sedangkan Maret 2019, capaian RE NTB telah mencapai 94,05 persen," kata Rudi.
Rudi menyampaikan beberapa kendala dalam pencapaian target RE 99,99 persen di NTB pada 2020 yang banyak terjadi di lapangan adalah masih banyak ditemukan masyarakat yang melakukan levering atau menyalur listrik dari tetangga.
"Jadi, secara pelayanan, masyarakat  tersebut sudah menikmati listrik, namun tidak tercatat didata PLN. Bagi masyarakat yang masih menyalur diimbau untuk segera mendaftar proses pasang baru ke PLN," kata Rudi.
Selain tidak terdata, proses menyalur listrik sangat berbahaya karena instalasinya tidak aman sehingga bisa berpotensi membahayakan jiwa. Selain itu, juga merupakan pelanggaran dan bisa dikenai sanksi ketika ditemukan oleh tim pemeriksa.
Efek lain yang akan sangat dirasakan oleh masyarakat dari proses menyalur adalah tegangan yang tidak stabil. Dengan menjadi pelanggan PLN, tegangan listrik baik di sisi rumah penyalur dan rumah yang disalurkan akan lebih stabil karena menerima supply listrik langsung dari PLN.
Terkait dengan kendala belum adanya jaringan, kata Rudi, PLN melalui program Listrik Pedesaan telah merencanakan pembangunan  jaringan baru. Misalnya di Dusun Punik di Kabupaten Sumbawa Besar dan Dusun Oi Panihi sampai dengan Dusun Oi Katupa di Kabupaten Bima.
"Diharapkan upaya tersebut dapat mempercepat peningkatan Rasio Elektrifikasi pada 2019 ini," ucap Rudi.
Sedangkan di sisi pembangkitan, lanjut Rudi, PLN UIW NTB telah mempersiapkan beberapa pembangkit untuk mengantisipasi pertumbuhan beban dengan total daya 250 MW di lokasi tersebar. Beberapa pembangkit yang sudah dan akan segera dioperasikan yaitu PLTMG Lombok Peaker, PLMTG Sumbawa dan PLTMG Bonto. (dari berbagai sumber. Jm – tim media)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan