logoblog

Cari

Pelangi Nusa Tiga Gelar Psychological First Aid.

Pelangi Nusa Tiga Gelar Psychological First Aid.

Sumbawa Barat. Diskominfo - Penanganan Pasca Gempa khususnya Trauma Healing di Kabupaten Sumbawa Barat selama ini hanya menyasar anak-anak, sementara Trauma

Pelayanan Publik

Feryal Mukmin Pertama
Oleh Feryal Mukmin Pertama
04 Oktober, 2018 08:30:49
Pelayanan Publik
Komentar: 0
Dibaca: 5236 Kali

Sumbawa Barat. Diskominfo - Penanganan Pasca Gempa khususnya Trauma Healing di Kabupaten Sumbawa Barat selama ini hanya menyasar anak-anak, sementara Trauma Healing untuk dewasa khususnya ibu-ibu yang langsung berinteraksi dengan anak-anak dan seluruh keluarga jarang dilakukan. Hal inilah yang menggerakkan Organisasi Pelangi Nusa Tiga Kertasari yang dipimpin oleh aktivis perempuan Andi Irma untuk mengadakan Trauma Healing khusus untuk Ibu-ibu yang benar-benar masih merasakan trauma berat. Demikian disampaikan Andi Irma disela-sela kegiatan Psychological First Aid (pemulihan mental korban gempa) di Aula Kantor Desa Labuhan Kertasari, Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Rabu (3/10).

Kegiatan tersebut bekerjasama dengan Aparatur Desa, Pemda KSB dalam hal ini Dinas P2KBP3A dan Eks. Praktik Pengajaran Lapangan (PPL) Universitas Negeri Surakarta (UNS) Solo. Menurut Andi Irma, Dana kegiatan ini murni bersumber dari dana bantuan para mahasiswa UNS yang melakukan PPL di Kertasari pada bulan Juli lalu. "Jadi ini murni anggaran dari Universitas Negeri Surakarta Solo. Pada saat mereka PPL di sini mereka ikut merasakan Gempa hebat sehingga pihak kampus menarik para mahasiswa 2 hari sebelum jadwal penarikan karena pihak kampus khawatir akan keselamatan mereka." Tutur Irma.

Mahasiswa UNS tersebut sebelumnya dijadwalkan akan melakukan PPL dari tanggal 10-23 Juli 2018, namun karena Gempa mereka ditarik pihak kampus dua hari sebelum masa penarikan. 20 hari kemudian para mahasiswa tersebut menggalang dana bantuan untuk gempa KSB yang dititipkan kepada Andi Irma sebesar Rp4juta 400 ribu yang kemudian oleh Andi Irma dana tersebut digunakan untuk kegiatan trauma Healing khusus Ibu-ibu di Desa Kertasari.

"Awalnya dana tersebut akan digunakan untuk membeli logistik, kata Irma, namun setelah berdiskusi dengan berbagai pihak maka diputuskan bahwa dana tersebut akan dipakai untuk kegiatan Trauma Healing. "Setelah diskusi dengan beberapa teman, akhirnya kita punya pemikiran dengan Ibu Erida (Staf Perlindungan Perempuan dan Anak, Dinas P2KBP3A KSB) untuk memanfaatkan anggaran ini untuk pemulihan mental ibu-ibu rumah tangga." Ungkap Irma.

Kalau dana tersebut, lanjut Irma, digunakan untuk membeli logistik maka uang ini tidak akan cukup, selain itu hal ini dilakukan juga untuk menghindari kecemburuan sosial ditengah masyarakat. Andi Irma merasa bahwa nilai uang sebanyak itu lebih berharga untuk kegiatan seperti ini dari pada sekedar untuk membeli logistik yang langsung habis.

Andi Irma mengungkapkan, kegiatan tersebut rencananya akan dilakukan di tiga titik atau tiga Desa, Desa Labuhan Kertasari pada hari ini, Desa Batu Putih tanggal 4 Oktober dan terakhir di Desa Banjar pada tanggal 9 Oktober 2018 mendatang, dengan sasaran sebanyak 75 ibu-ibu rumah tangga yang diundang. Diharapkan dari 75 orang tersebut nantinya akan bercerita kepada teman-temannya seperti apa model pemulihan mental yang sebenarnya. Andi Irma juga berharap, agar masyarakat tercerahkan, sehingga mereka tidak ketakutan lagi, tenang dalam bekerja, tenang kemana-mana sehingga rasa cemas untuk beraktivitas hilang. Menurut Irma, warga Kertasari pada umumnya masih trauma jika mendengar atau merasakan getaran-getaran kecil.

 

Baca Juga :


Pada kesempatan yang sama, Staf Bidang Perlindungan Perempuan Dinas pengendalian penduduk keluarga berencana dan perlindungan perempuan dan anak KSB, Allein Erida Daeng Iji yang memberikan materi motivasi berbasis religi dan keterampilan mengatakan pemulihan mental pada Ibu-ibu sangat penting karena Psikologi Ibu-ibu tersebut akan menentukan Psikologi keluarga, saat Ibu-ibu cemas maka seluruh keluarga akan ikut cemas. Erida menambahkan, untuk mengatasi gangguan kecemasan tidak memakai kata "Trauma", karena trauma hanya bisa dideteksi dan diperiksa setelah 6 bulan pasca terjadinya bencana.

"Untuk menentukan Trauma atau tidak perlu diperiksa, jadi ini masih dianggap stres, kita masih bisa mengobati diri sendiri dengan cara memotivasi diri sendiri dan meyakini bahwa dokter terbaik adalah diri sendiri serta menanamkan keyakinan pada diri bahwa bencana ini sudah berakhir." Tegas Erida.

Output dari kegiatan ini nantinya agar para Ibu-ibu ini memahami dengan baik cara pemulihan stres dan tidak boleh terpuruk, tidak boleh berhenti bergerak dan tetap semangat, memang tidak gampang karena memang saya juga merasakannya, tetapi harus kita lawan perasaan itu. Kenapa perempuan, lanjut Erida, karena yang lebih banyak berkomunikasi dan berinteraksi terhadap anak dan keluarga adalah Ibu-ibu. Diskominfo Sumbawa Barat/Feryal/tifa. Dok. Rangga.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan