logoblog

Cari

Jangan Jemur PNS Malas, Mereka Bukan Kerupuk

Jangan Jemur  PNS Malas, Mereka Bukan Kerupuk

Jangan Jemur  PNS Malas, Mereka Bukan Kerupuk   Jangan hiraukan para PNS yang malas. Hiraulah terhadap mereka yang tekun dan rajin mengabdi kepada

Pelayanan Publik

Muhammad Shafwan
Oleh Muhammad Shafwan
12 April, 2015 10:13:47
Pelayanan Publik
Komentar: 0
Dibaca: 9732 Kali

Jangan hiraukan para PNS yang malas. Hiraulah terhadap mereka yang tekun dan rajin mengabdi kepada negeri ini dengan tulus. Hiraulah kepada mereka yang pengabdiannya layak dihargai dan dianugerahi hadiah. Para PNS malas jumlahnya hanya segelintir saja. Pelan-pelan mereka akan tenggelam di antara PNS lain yang tidak malas, yang sukses menjaga fikiran dan tindakannya untuk istikomah menjalankan tugasnya.

Para PNS malas akan tergerus oleh kebaikan –kebaikan disekelilingnya jika  sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang rajin, orang yang baik, orang yang selalu datang tepat waktu dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan sempurna. Para PNS malas akan tambah ngelunjak jika terus menerus diperhatikan, semakin merasa disalahkan kalau diberi hukuman, menjadi pendendam jika dipermalukan. Bukan efek jera yang kita dapatkan tapi dendam personal yang akhirnya menjadi bumerang.

Atasan  yang hebat itu bukanlah atasan yang sukses sendiri mebangun citra dan kepintarannya. Atasan yang hebat itu mampu membangun diri dan bawahannya untuk bergerak melaksanakan visi misi lembaga yang dipimpinnya. Menjadi hilang kehebatannya manakala orang melihat bahwa ia tidak mampu memperbaiki lingkungannya, tak mampu menginspirasi para bahwahannya untuk turut bergerak simultan sesuai rencana bersama. Para atasan harus punya cara untuk mengatasi kemalasan para bawahannya sebab para bawahan adalah salah satu elemen penting yang tak boleh diabaikan.

Para atasan harus pintar memotovasi, “mengagitasi” semangatnya secara serius agar mereka terprovokasi untuk menjadi lebih baik. Dalami kondisi fsikologis para bawahan, tanyakan persoalan pribadinya bila perlu, tepuklah pundaknya dan besarkan hatinya jika meraka mengalami persoalan diluar pekerjaan kantor yang menumpuk. Sebab para bawahan adalah manusia biasa yang tidak bisa bekerja maksimal jika meraka diluar sana dililit hutang, tak bisa bayar kos-kosan, anak sakit dan suami dipecat. Menjadi gagal seorang pemimpin yang menyerahkan persoalan kemalasan bawahannya kepada orang lain untuk dijemur, dipermalukan di depan orang banyak, dan diliput media massa.

Kepantasan seseorang menjadi atasan dapat diraba dari caranya mencontohkan karakter baik kepada para bawahannya. Moral atasan adalah nomor satu. Mengayomi adalah harga mati, atasan harus pandai mengayomi dengan menunjukkan penolakan terhadap segala bentuk korupsi, baik itu korupsi waktu atau korupsi benda-benda serta penerimaan lain yang mestinya tidak layak diterima atasan. Salah seorang bawahan pernah cerita kepada saya soal atasannya yang mau saja menerima uang honor dari sesuatu yang tak pernah ia kerjakan, sesuatu yang tak pernah ia hadiri, dan sesuatu yang sama sekali tidak ia tahu.  

Atasan harus menunjukann bahwa dia menolak untuk mengakali anggaran dengan markup dan tipu-tipu yang diketahui benar oleh anak buahnya. Itulah Para pemimpin yang diteladani dan membuat malu para bawahan. Mereka akan malu berbuat macam-macam jika para pemimpinanya mencontohkan hal-hal mulia dengan istiqomah dan menghargai para bawahannya.

 

Baca Juga :


Ikhtiar membangun daerah membutuhkan orang-orang yang bangun dan tidak sedang terlelap. Sebuah daerah dengan semangat membangun tidak membutuhkan para PNS yang bekerja karena rasa terpaksa harus bekerja. Daerah ini tidak membutuhkan PNS yang layaknya buruh yang hanya bekerja kalau ada mandor dan malas bekerja kalau tak dipantau. Daerah membutuhkan cara berpikir lain dari biasanya agar kekuatan PNS memiliki daya ungkit lebih besar untuk mendorong perubahan.

Oleh karena Daerah ini membutuhkan para PNS yang memiliki martabat, cita-cita, serta keseriusan,  maka pikiran, tindakan dan tetek bengeknya harus pula difokuskan untuk kebutuhan tersebut. Artinya jika ada para PNS yang sudah pantas dikatakan bermartabat ini, mereka haruslah dihargai, diberikan insentif, diberikan reward.  Para PNS bermartabat harus dinaikkan pangkatnya secara tidak berbelit-belit. Dengan adil. Dengan merujuk kepada kemanpuan dan pengabdian yang dimilikinya. Bukan karena faktor lain yang tidak masuk akal.

Para PNS yang bermartabat tidak harus disusahkan dengan berbagai aturan yang membuat mereka malas mengurus kenaikan pangkatnya. Sekali lagi saya pertegas bahwa salah satu bentuk penghargaan kepada mereka yang pintar, menginspirasi, dan sukses menjalankan perannya sebagai PNS sesuai jabatan yang diembannya adalah menaikan pangkat tanpa harus mengurusnya. Daerah harus punya regulasi yang baik dan terukur untuk urusan PNS baik ini. Daerah harus membuat orang tertarik menjadi PNS yang bersih, telaten, jujur, rajin. Hingga pada gilirannya orang dengan serius berjuang menjadi para pengabdi Negara yang potensial dan tidak sial.

Aturan Negara ini pada kenyataanya memang lebih banyak menghukum ketimbang menghargai jerih payah para Abdi Negara. UU kita tak punya ukuran yang jelas bagaimana para orang baik diberikan penghargaan. Tergantung tafsir dan maunya para penentu dan pemimpin daerah. Aturan Negara kita kalah jauh dengan regulasi perusahan kecil di sudut kota yang memberikan insentif besar bagi karyawannya yang sukses membangun citra perusahaan dan menguntungkan perusahaan. UU Kepegawaian kita harus diperbaiki.[] - 01



 
Muhammad Shafwan

Muhammad Shafwan

Warga Kampung dari Karang Bata Selatan, Abiantubuh Baru, Sandubaya Kota Mataram. kontak person 08175777556. pin BB.75b94f58

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan